Dikutip dari buku berjudul: Islam Dihujat; karya Hj. Irena Handono (dengan perubahan seperlunya)
Dr. Robert Morey menyatakan bahwa Allah adalah nama dari Dewa Bulan yang disembah di Arab sebelum Islam. Hal ini ia kuatkan dengan pernyataan bahwa :
Nama Allah sudah dikenal masyarakat Arab sebelum kenabian Muhammad.
Adanya nama-nama seperti Qomaruddin, Syamsuddin.
Kepercayaan Jahiliyah (PraIslam), agama Astral.
Berhala yang ada di Ka'bah.
Simbol bulan sabit.
Yang agak memalukan bahwa dalam membuktikan tuduhan-tuduhannya tersebut Pak Doktor ini banyak memanipulasi pernyataan dari penulis-penulis yang menjadi rujukannya. Sebagai Contoh :
- Untuk menguatkan pendapatnya bahwa "dewa bulan dipanggil dengan berbagai nama, salah satunya adalah Allah'" ia merujuk pada halaman 7 dari Buku Guillame yang berjudul Islam. Tetapi sebenarnya Guillame mengatakan di halaman yang sama : "Di Arab, Allah telah dikenal dari sumber umat Kristen dan Yahudi sebagai Tuhan yang Esa, dan tidak ada keraguan meslvpun dia telah dikenal oleh Pagan Arab di Mekkah sebagai yang Tertinggi."
- Dr. Morey juga mengutip dari penulis non-Muslim Caesar Farah di ha128. Tetapi pada saat dirujuk dalam buku tersebut didapati bahwa Dr. Morey hanya mengutip sebagian dan meninggalkan pokok bahasan dari buku tersebut. Buku tersebut sebenarnya menyatakan bahwa Tuhan yang dipanggil il oleh orang Babilon dan EI oleh orang Israel telah dipanggil ilah, al-ilah, dan Allah di Arab. Farah mengatakan lebih lanjut pada halaman 31 bahwa sebelum Islam orang pagan telah mempercayai bahwa Allah adalah dewa tertinggi. Dikarenakan mereka sudah mempunyai 360 berhala, tetapi Allah bukan salah satu dari 360 berhala tersebut. Sebagaimana Caesar Farah menyatakan di halaman 56, bahwa Nabi
Muhammad sholallahu’alayhi wassalaam, telah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
Nama Allah sebelum Islam
Adanya kata Allah sebelum masa Islam, seperti yang dikatakan Robert Morey bahwa Ayah Rasulullah bernama Abdullah (hamba Allah), tidak sepantasnya dijadikan alas an bahwa Allah tersebut adalah dewa bulan.
Seperti El, Eloy, Allah, Yahweh, Ya Hua, Elohem, Allahumma; adalah kata-kata yang dipakai oleh masing-masing bangsa saat itu untuk menyebut Tuhan. Dan kata Allah adalah kata yang dipakai oleh bangsa Arab untuk menyebut Tuhan khususnya oleh para Ahnaf (masyarakat Arab yang mengikuti tradisi
Ibrahim). Dan nama itu tidak termasuk dalam jajaran nama-nama berhala dan dewa-dewa Arab. Permasalahannnya bukan hanya pada kata-kata itu saja, kemudian kita menilai paham suatu masyarakat. Tapi pada cara penyikapan kepada "Tuhan" yang disebut menurut bahasa mereka sendiri-sendiri. Bangsa Israel yang menggunakan kata Yahweh untuk merefleksikan pemahaman mereka tentang konsep "Tuhan" dibimbing oleh rasul dan nabi mereka untuk meluruskan pemahaman dan penyikapan terhadap Tuhan yang mereka sebut Yahweh. Begitu juga masyarakat Arab yang pada masa jahiliyah memakai kata Allah untuk menyebut Tuhan dibimbing oleh Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalaam untuk menyikapi dan memahami apa yang mereka sebut Allah itu. Cara penyikapan inilah yang diajarkan oleh masing-masing rasul dan nabi kepada umatnya, yaitu meng-ESA-kan. Kalau ukurannya hanya pada tataran kata saja untuk menilai paham suatu umat, maka Yahudi dan Kristen juga pagan, karena nama "EL' yang dipakai IsraEL adalah Tuhan dari bangsa Kan'an yang menurut mereka pagan.
Qomaruddin dan Syamsuddin
Pembaca dari kalangan Muslim mungkin akan tertawa ketika dikatakan bahwa nama-nama Cak Qomar dan Cak Udin juga kang Najam dijadikan bukti adanya penyembahan terhadap dewa bulan. Menurut Dr. Robert Morey :
Agama Penyembah Bulan disebut Komaruddin.
Komarun = Bulan; Dinun = Agama.
Begitu juga dengan nama Syamsuddin dan Najmuddin, keduanya diterjemahkan dengan cara yang sama.
Komarun berarti bulan dan dinun berarti agama maka arti dari nama tersebut adalah "bulannya agama", maksudnya seorang yang dengan agamanya berkiprah di masyarakatnya seperti bulan yang bersinar terang benderang, membawa nama baik agamanya. Begitu syamsuddin, di harapkan oleh orang tuanya agar lebih bersinar seperti matahari yang selalu memberi manfaat kepada manusia. Nama-nama muslim yang dinisbatkan kepada dien (agama) memiliki makna senada, seperti saifuddin (pedang agama), adalah harapan orang tuanya agar anaknya mampu membela agamanya ibarat sebuah pedang yang siap dipakai kapan saja. Sedang "penyembah bulan" kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ‘abid al-Qomar . Begitu juga dengan dua nama lainnya.
Masyarakat Arab pada masa pra Islam seringkali menamakan budaknya dengan nama -nama yang dapat menyenangkan hati mereka seperti nama Qomar dan Syams, diharapkan agar budaknya dapat menerangi mereka seperti namanya. Sedang untuk mereka sendiri, mereka memakai namanama yang menyeramkan, untuk menakuti musuhmusuhnya, seperti Kilab (anjing-anjing), Asad (singa), Namir dan Fahd (harimau). Pada masa Rasulullah nama-nama jahiliyah banyak dinisbatkan langsung pada Allah, seperti Saifullah (pedang Allah), Asadullah (Singa Allah) dan lain sebagainya. Rasulullah meluruskan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah bahkan pada masalah nama.
Pada masa selanjutnya ketika perbudakan sudah terhapuskan, dan para mantan budak yang membentuk komunitas tersendiri, tampil dalam pemerintahan. Mereka dikenal sebagai kaum Mawali (orang-orang yang meminta perlindungan). Untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang sebelumnya adalah tuan-tuan mereka, maka mereka menisbatkan nama-nama, mereka kepada kata din (agama). Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang tidak lagi menisbatkan nama-nama kepada tuan-tuannya, sebab zaman perbudakan sudah berakhir, dan semua mereka adalah sama dalam urusan agama. Maka kita melihat bahwa nama-nama seperti Qomaruddin dan Syamsuddin tidak pernah kita temukan pada masa jahiliyah, ataupun pada masa Rasulullah, nama-nama itu baru muncul kemudian pada saat mantan budak memegang tampuk pemerintahan.
Pada masa sekarang nama-nama di atas tidak dipakai untuk menyenangkan tuan, tidak juga untuk legalitas kekuasaan. Nama-nama itu dipakai umat muslim dengan maksud yang berbeda, karena mereka hanya melihat arti dari nama-nama itu, yang diharapkan pemiliknya dapat menjadi seperti namanya.
Kepercayaan masa Jahiliyah (Pra Islam)/Agama Astral
Menurut Dr. Morey : "Allah, dewa bulan, kawin dengan dewa matahari. Mereka berdua mempunyai tiga orang puteri yang disebut putri-putri Allah. Ketiga putri tersebut AILata, AIUzza, dan Manat". Untuk memperkuat anggapannya ia memanipulasi pernyataan Guilluame seperti yang kita ungkap sebelum ini.
Bahwa masyarakat Arab pra Islam memiliki kepercayaan terhadap bintang dan bulan juga matahari memang benar, hanya saja Dr. Morey berhenti sampai disini untuk menyatakan bahwa yang disembah oleh umat Muslim adalah dewa bulan, padahal kepercayaan yang semacam inilah yang diserang dengan keras oleh Rasulullah tanpa kompromi sedikitpun. Itulah sebabnya maka masa tersebut dikatakan sebagai masa Jahiliyyah (zaman kebodohan). Terjemah ayat-ayat berikut ini akan menggambarkan bagaimana Rasulullah secara radikal menyerang kepercayaan masyarakatnya :
“ Maka apakah patut bagi kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al- Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah namanama yang kamu dan bapak-bapak karnu mengadaadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan rnereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicitacitakannya (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. " (QS. An-Najm 19-25).
Berhala di dalam Ka'bah
Berikut ini adalah salah satu dari pernyataan tidak berdasar yang dilontarkan oleh Robert Morey : "Ada satu berhala Allah ditempatkan di ka'bah bersama dengan semua ilahilah berhala lain. Penyembah-penyembah berhala sembahyang menghadap Mekah dan Kaabah karena di sanalah dewa-dewa mereka disemayamkan". Kita tidak tahu dari mana pak Doktor mendapatkan sumbernya, tapi yang jelas tidak pernah melihat Ka'bah secara langsung apalagi masuk di dalamnya.
Pada Masa Jahiliyah tradisi menyebut demikian untuk membedakan antara masa kebenaran dan kebodohan, banyak berhala ditempatkan di Ka'bah tapi tidak ada satupun berhala disebut Allah. Dan berhala-hala yang amat banyak tersebut telah dihancurkan oleh Rasulullah saat memasuki Makkah, setelah sebelumnya umat Islam diusir dari Makkah. Rasulullah sendiri pada saat sebelum menjadi nabi, pernah bersumpah dihadapan Khadijah istrinya bahwa beliau "tidak akan menyembah uzza selamanya", hal ini jelas membedakan antara Allah dan ilahilah lainnya, sebab saat itu agama Hanifah (jalan lurus)
ajaran Ibrahim ‘Alayhissalaam masih bertahan di Makkah, walaupun pengikutnya tidak sebanyak para
pagan. Kini jangankan di Ka'bah di rumah seorang muslim saja tidak akan ada berhala. Sangat berbeda dengan Rumah dan Kantor Robert Morey yang mungkin memasang patung salib di sudut ruang atau kamarnya.
Dewa bulan dan Simbol Bulan Sabit
Simbol bulan sabit yang sering dipakai umat muslim dianggap sebagai symbol penyembahan dewa bulan oleh Dr. Robert Morey. la menyatakan : "Simbol penyembahan dewa bulan dalam budaya Arab dan di tempat-tempat lain di seluruh timur tengah adalah bulan sabit". Gambar bintang yang biasa berada ditengah bulan sabit tidak disebut, karena Amerika memakai simbol bintang.
Dr. Robert Morey dan para orientalis Barat menuduh dengan bertanya kenapa umat Islam memakai simbol bulan sabit untuk agama mereka? Atau kenapa bulan dipakai untuk menandai bulan baru?. Mereka sengaja bertanya dengan logika yang salah dari sesuatu yang tersembunyi, sejak saat umat Islam memakai bulan sabit sebagai simbol, maka dikatakan bahwa umat Islam menyembah "dewa bulan". Ini tidak benar sebagaimana anggapan bahwa sejak umat Yahudi mengambil bintang David sebagai simbol, maka umat
Yahudi menyembah bintang, berarti umat Kristen juga menyembah patung salib saat mereka memakai simbol tersebut, atau menyembah matahari saat menggunakan tanda silang dari sinar matahari. Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyembah bulan. Dalam firman Allah disebutkan:
"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. " (QS. Fushshilat 37)
Ayat ini diperkuat dengan ayat lain, bahwa bulan bukanlah object penyembahan.
"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalarn siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ". (QS. Luqman 29).
Jika Allah adalah "dewa bulan" seperti yang dituduhkan oleh Dr. Morey, apa mungkin "dewa bulan" menciptakan bulan untuk dipakai oleh manusia?. Dengan bukti di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umat Islam hanya menyembah `Allah" saja, dan bukan menyembah dewa bulan. Kepercayaan terhadap kekuatan benda-benda angkasa yang pernah berkembangan di Mesir, Babilonia, serta Asiria, mungkin saja mempengaruhi Jazirah Arab, sebab secara geografis letaknya tidaklah berjauhan; Hanya saja pada masa Rasulullah kepercayaan tersebut diluruskan dengan menempatkan benda-benda tersebut pada tempat dan fungsinya. Seperti bulan -misalnya -, seperti yang pernah ditanyakan oleh masyarakat Arab kepada Rasulullah, ditempatkan sebatas untuk menandakan pergantian waktu. Sebagaimana Firman Allah di Surat Al Baqarah 189:
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji".
Dari riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat bertanya kepada Rasulullah sholallahu’alayhi wassalaam: Untuk apa diciptakan bulan sabit?" maka turun ayat tersebut yang memerintahkan Rasulullah untuk menjawab bahwa bulan adalah untuk menunjukkan waktu kepada manusia kapan mereka harus memakai pakaian ihram pada waktu haji dan kapan harus menanggalkannya, atau kapan mereka harus memulai puasa dan kapan harus mengakhirinya. Dari sini, dapat kita ketahui bahwa tidak ada kepentingan penyembahan kepada bulan, tetapi hanya sebagai Penunjuk pergantian waktu, seperti Haji dan Puasa. Pada masa Khalifah Umar umat Muslim membuat penanggalan berdasarkan hitungan bulan, yang dimulai sejak masa Hijrah.
Yang menarik untuk dicatat bahwa umat Yahudi juga memakai Penanggalan Hijriah untuk menandai perayaan suci mereka. Penanggalan keagamaan Umat Yahudi, yang aslinya dari Babilonia, terdiri dari 12 bulan Qomariah/Hijriah, terhitung 354 hari. Dan penghitungan hari dimulai dari tenggelamnya matahari sampai tenggelam lagi.
Maka bila dikatakan bahwa Islam menyembah "dewa bulan" dikarenakan memakai penanggalan yang berdasarkan bulan, maka apakah agama orang Yahudi, yang juga memakai penanggalan yang berdasarkan bulan? berdasarkan "logika" Dr. Robert Morey maka umat Yahudi " juga "penyembah bulan". Demikian juga bila umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan perputaran matahari, apakah mereka juga menyembah matahari? Mari kita simak keterangan berikut ini. Penanggalan yang pertama adalah penanggalan yang berdasarkan bulan. Kebudayaan kuno, seperti Siria, Babilonia, Egypt, dan Cina telah memakai penanggalan bulan, sebagaimana budaya Semit juga mengambil penanggalan bulan untuk menandai waktu mereka.
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarokatuh...
Salam Sejahtera, semoga engkau dirahmati dan diberkati Allah...
Begitu maraknya orang-orang kafir dalam menyebarkan kesesatan kepada yang telah beragama, khususnya kepada umat Islam.
Maka dari itu, marilah...kita tolak keras gerakan kafir ini dengan bergabung di blog ini serta memberikan jawaban-jawaban atas pembahasan yang telah didistorsikan oleh para kafirun dengan menggunakan argumen-argumen yang kuat lagi bisa dipertanggung jawabkan.
Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."
( QS. al-Baqarah (2) : 120 )
Begitu maraknya orang-orang kafir dalam menyebarkan kesesatan kepada yang telah beragama, khususnya kepada umat Islam.
Maka dari itu, marilah...kita tolak keras gerakan kafir ini dengan bergabung di blog ini serta memberikan jawaban-jawaban atas pembahasan yang telah didistorsikan oleh para kafirun dengan menggunakan argumen-argumen yang kuat lagi bisa dipertanggung jawabkan.
Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."
( QS. al-Baqarah (2) : 120 )
Senin, 26 Juli 2010
Minggu, 11 Juli 2010
Pembahasan Ali Imran : 45 - 47
45. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
46. dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh."
47. Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.
(QS. Ali Imran : 45-47)
Hal ini merupakan berita gembira yang disampaikan malaikat kepada Maryam, bahwa kelak dia akan mempunyai seorang anak yang agung dan mempunyai peran yang besar. Allah sub’hanahu wata’ala berfirman:
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya… (QS. Ali Imran : 45)
Yakni seorang anak yang proses kejadiannya hanya melalui kalimat (perintah) dari Allah sub’hanahu wata’ala yaitu dengan ucapan, “Kun (jadilah),” maka jadilah dia. Hal inilah yang dimaksud dengan tafsir firman-Nya:
yang membenarkan kalimat[193] (yang datang) dari Allah… (QS. Ali Imran : 39)
menurut pendapat jumhur ulama, sebagaimana yang telah disebutkan.
…namanya Al-Masih Isa putera Maryam. (QS. Ali Imran : 45)
Yakni nama itulah yang terkenal baginya di dunia, semua orang mukmin mengetahuinya.
Menurut sebagian ulama salaf, ia dinamakan Al-Masih karena banyak melakukan pengembaraan. Menurut pendapat yang lainnya, ia dinamakan demikian karena kedua telapak kakinya rata, tidak ada lekukan dan tonjolannya.
Menurut pendapat yang lainnya, ia dinamakan Al-Masih karena apabila ia mengusap seseorang yang mempunyai penyakit, maka dengan seizin Allah orang tersebut sembuh dari penyakitnya.
Firman Allah sub’hanahu wata’ala:
…Isa putra Maryam. (QS. Ali Imran : 45)
menunjukkan pengertian bahwa namanya dinisbatkan kepada ibunya, karena ia tidak berayah.
…seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) (QS. Ali Imran : 45)
Artinya, dia adalah orang yang terkemuka dan mempunyai kedudukan di sisi Allah ketika di dunia, karena wahyu diturunkan oleh Allah kepadanya berupa syariat agama, dan Allah menurunkan Al-Kitab kepadanya serta hal-hal lainnya yang dianugerahkan Allah kepadanya. Sedangkan di akhirat ini dia dapat memberi syafa’at di sisi Allah terhadap orang-orang yang diizinkan-Nya untuk diberi syafa’at. Lalu Allah menerima syafa’atnya karena mengikuti jejak saudara-saudaranya dari kalangan ulul azmi. Semoga Allah melimpahkan selamat dan salam-Nya kepada mereka semua.
Firman Allah sub’hanahu wata’ala:
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa… (QS. Ali Imran : 46)
yang isi pembicaraannya ialah menyeru manusia untuk menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal itu dilakukan selagi ia masih bayi, sebagai mukjizat dan tanda kekuasaan Allah sub’hanahu wata’ala. Juga ia berbicara setelah dewasa, yaitu ketika Allah telaah menurunkan wahyu kepadanya.
dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ali Imran : 46)
yaitu dalam semua ucapan dan amal perbuatannya berdasarkan ilmu yang benar dan amal yang saleh.
Muhammad Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Yazid Ibnu Abdullah Ibnu Qasit, dari Muhammad Ibnu Syurahbil, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalaam pernah bersabda:
Tidak ada seorang pun semasa bayinya dapat berbicara kecuali Isa dan teman Juraij.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Saqr Yahya ibnu Muhammad ibnu Quza’ah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Al-Marwazi), telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Abu Hazim), dari Muhammad, dari Abu Hurairah, dari Nabi sholallahu ‘alayhi wassalaam yang telah bersabda:
Tidak ada yang dapat berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang, yaitu Isa, bayi yang ada di masa Juraij, dan bayi lainnya (anak Masyitah, pent.)
Setelah Maryam mendengar berita gembira yang disampaikan oleh malaikat kepadanya dari Allah sub’hanahu wata’ala, maka ia berkata dalam munajatnya:
"Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." (QS. Ali Imran : 47)
Maryam bertanya, “Bagaimana aku dapat mempunyai anak, sedangkan aku tidak bersuami, serta aku bukan wanita yang nakal?” Maka malaikat berkata kepadanya, menjawab pertanyaan tersebut:
"Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Ali Imran : 47)
Yakni demikianlah urusan Allah itu Maha Hebat, tiada sesuatu pun yang melemahkan-Nya, dan hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Ali Imran : 47)
dan tidak disebutkan dengan kalimat, “Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” seperti yang terdapat di dalam kisah Zakaria. Melainkan disebutkan di sini dengan jelas dan tegas bahwa Allah sub’hanahu wata’ala menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, tujuannya ialah agar tidak ada jalan bagi orang yang ingkar untuk meragukannya. Lalu hal tersebut diperkuat lagi oleh firman selanjutnya yaitu:
Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (QS. Ali Imran : 47)
Yakni sesuatu itu jadi setelah diperintahkan oleh Allah, tanpa ada keterlambatan barang sedikit pun. Begitu Allah mengatakan, “Kun,” maka jadilah ia seketika itu juga. Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (QS. Al-Qamar : 50)
Yakni sesungguhnya Kami hanya mengatakan sekali perintah tanpa mengulanginya lagi, maka terjadilah apa yang Kami kehendaki itu dengan cepat seperti kejapan mata.
46. dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh."
47. Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.
(QS. Ali Imran : 45-47)
Hal ini merupakan berita gembira yang disampaikan malaikat kepada Maryam, bahwa kelak dia akan mempunyai seorang anak yang agung dan mempunyai peran yang besar. Allah sub’hanahu wata’ala berfirman:
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya… (QS. Ali Imran : 45)
Yakni seorang anak yang proses kejadiannya hanya melalui kalimat (perintah) dari Allah sub’hanahu wata’ala yaitu dengan ucapan, “Kun (jadilah),” maka jadilah dia. Hal inilah yang dimaksud dengan tafsir firman-Nya:
yang membenarkan kalimat[193] (yang datang) dari Allah… (QS. Ali Imran : 39)
menurut pendapat jumhur ulama, sebagaimana yang telah disebutkan.
…namanya Al-Masih Isa putera Maryam. (QS. Ali Imran : 45)
Yakni nama itulah yang terkenal baginya di dunia, semua orang mukmin mengetahuinya.
Menurut sebagian ulama salaf, ia dinamakan Al-Masih karena banyak melakukan pengembaraan. Menurut pendapat yang lainnya, ia dinamakan demikian karena kedua telapak kakinya rata, tidak ada lekukan dan tonjolannya.
Menurut pendapat yang lainnya, ia dinamakan Al-Masih karena apabila ia mengusap seseorang yang mempunyai penyakit, maka dengan seizin Allah orang tersebut sembuh dari penyakitnya.
Firman Allah sub’hanahu wata’ala:
…Isa putra Maryam. (QS. Ali Imran : 45)
menunjukkan pengertian bahwa namanya dinisbatkan kepada ibunya, karena ia tidak berayah.
…seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) (QS. Ali Imran : 45)
Artinya, dia adalah orang yang terkemuka dan mempunyai kedudukan di sisi Allah ketika di dunia, karena wahyu diturunkan oleh Allah kepadanya berupa syariat agama, dan Allah menurunkan Al-Kitab kepadanya serta hal-hal lainnya yang dianugerahkan Allah kepadanya. Sedangkan di akhirat ini dia dapat memberi syafa’at di sisi Allah terhadap orang-orang yang diizinkan-Nya untuk diberi syafa’at. Lalu Allah menerima syafa’atnya karena mengikuti jejak saudara-saudaranya dari kalangan ulul azmi. Semoga Allah melimpahkan selamat dan salam-Nya kepada mereka semua.
Firman Allah sub’hanahu wata’ala:
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa… (QS. Ali Imran : 46)
yang isi pembicaraannya ialah menyeru manusia untuk menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal itu dilakukan selagi ia masih bayi, sebagai mukjizat dan tanda kekuasaan Allah sub’hanahu wata’ala. Juga ia berbicara setelah dewasa, yaitu ketika Allah telaah menurunkan wahyu kepadanya.
dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ali Imran : 46)
yaitu dalam semua ucapan dan amal perbuatannya berdasarkan ilmu yang benar dan amal yang saleh.
Muhammad Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Yazid Ibnu Abdullah Ibnu Qasit, dari Muhammad Ibnu Syurahbil, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalaam pernah bersabda:
Tidak ada seorang pun semasa bayinya dapat berbicara kecuali Isa dan teman Juraij.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Saqr Yahya ibnu Muhammad ibnu Quza’ah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Al-Marwazi), telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Abu Hazim), dari Muhammad, dari Abu Hurairah, dari Nabi sholallahu ‘alayhi wassalaam yang telah bersabda:
Tidak ada yang dapat berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang, yaitu Isa, bayi yang ada di masa Juraij, dan bayi lainnya (anak Masyitah, pent.)
Setelah Maryam mendengar berita gembira yang disampaikan oleh malaikat kepadanya dari Allah sub’hanahu wata’ala, maka ia berkata dalam munajatnya:
"Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." (QS. Ali Imran : 47)
Maryam bertanya, “Bagaimana aku dapat mempunyai anak, sedangkan aku tidak bersuami, serta aku bukan wanita yang nakal?” Maka malaikat berkata kepadanya, menjawab pertanyaan tersebut:
"Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Ali Imran : 47)
Yakni demikianlah urusan Allah itu Maha Hebat, tiada sesuatu pun yang melemahkan-Nya, dan hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Ali Imran : 47)
dan tidak disebutkan dengan kalimat, “Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” seperti yang terdapat di dalam kisah Zakaria. Melainkan disebutkan di sini dengan jelas dan tegas bahwa Allah sub’hanahu wata’ala menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, tujuannya ialah agar tidak ada jalan bagi orang yang ingkar untuk meragukannya. Lalu hal tersebut diperkuat lagi oleh firman selanjutnya yaitu:
Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (QS. Ali Imran : 47)
Yakni sesuatu itu jadi setelah diperintahkan oleh Allah, tanpa ada keterlambatan barang sedikit pun. Begitu Allah mengatakan, “Kun,” maka jadilah ia seketika itu juga. Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (QS. Al-Qamar : 50)
Yakni sesungguhnya Kami hanya mengatakan sekali perintah tanpa mengulanginya lagi, maka terjadilah apa yang Kami kehendaki itu dengan cepat seperti kejapan mata.
Jumat, 25 Juni 2010
Perintah Perang Dalam Kitab Suci
Dialog ini terjadi lewat Facebook....
Bapak Korban Salibis
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. AT TAUBAH:29)
Kemarin jam 17:10 – melalui Random Ayat
13 Komentar – Suka – Hapus
Bishop Baius Hannasius dan 2 oarng lainnya menyukai ini.
-sang Laskar- jam 17:19 kemarin
Wah…Maha Kejam sekali Auloh.. hapus
Bishop Baius Hannasius jam 17:54 kemarin
Sang Laskar@ kamu gak tau ya? Perangi org kafir jg ada dlm hukum Taurat loh… hapus
-sang Laskar- jam 19:40 kemarin
Hukum taurat yang mana, memangnya ada yah..?? hapus
Bishop Baius Hannasius jam 21:22 kemarin
Buka aja Perjanjian Lama… hapus
-sang Laskar- jam 21:34 kemarin
……????????????
Hampir tiap hari saya buka kok.. hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:57
“Panah-panah-Ku akan dilumuri darah mereka; semua yang menentang Aku Kubunuh dengan pedang-Ku. Tidak Kubiarkan siapapun melawan Aku; orang tahanan dan yang luka-luka mesti mati juga.” (Deuteronomy 32:42) hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:58
“Apabila Tuhan, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, dan Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dan janganlah engkau mengasihani mereka.” (Deuteronomy 7:1-2) hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:59
ULANGAN 20:10-13
10. Apabila engkau mendekati sebuah kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan damai kepadanya.
11. Apabila kota itu menerima perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang ada disitu melakukan RODI bagi mu dan menjadi hamba kepadamu.
12. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan perlawanan dengan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya.
13 dan setelah Tuhan, Allahmu menyerahkannya kedalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:00
Samuel 15:3 “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan padanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun PEREMPUAN, KANAK-KANAK MAUPUN ANAK-ANAK YANG MENYUSU, LEMBU maupun DOMBA, UNTA maupun KELEDAI” hapus
Bapak Korban Salibis jam 8.00
Ulangan 20:16 “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, JANGANLAH KAU BIARKAN HIDUP APAPUN YANG BERNAFAS”. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:01
17 Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.
18 Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:05
Jika kamu masih berdalih: “Kan udah ada Yesus, jadi ajaran perang berubah…”
Oh… Gak bisa gitu bos…
Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah. [Mazmur 89:34] hapus
Bishop Baius Hannasius jam 8:12
Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum taurat, sebelum semuanya terjadi.” hapus
Bapak Korban Salibis
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. AT TAUBAH:29)
Kemarin jam 17:10 – melalui Random Ayat
13 Komentar – Suka – Hapus
Bishop Baius Hannasius dan 2 oarng lainnya menyukai ini.
-sang Laskar- jam 17:19 kemarin
Wah…Maha Kejam sekali Auloh.. hapus
Bishop Baius Hannasius jam 17:54 kemarin
Sang Laskar@ kamu gak tau ya? Perangi org kafir jg ada dlm hukum Taurat loh… hapus
-sang Laskar- jam 19:40 kemarin
Hukum taurat yang mana, memangnya ada yah..?? hapus
Bishop Baius Hannasius jam 21:22 kemarin
Buka aja Perjanjian Lama… hapus
-sang Laskar- jam 21:34 kemarin
……????????????
Hampir tiap hari saya buka kok.. hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:57
“Panah-panah-Ku akan dilumuri darah mereka; semua yang menentang Aku Kubunuh dengan pedang-Ku. Tidak Kubiarkan siapapun melawan Aku; orang tahanan dan yang luka-luka mesti mati juga.” (Deuteronomy 32:42) hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:58
“Apabila Tuhan, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, dan Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dan janganlah engkau mengasihani mereka.” (Deuteronomy 7:1-2) hapus
Bapak Korban Salibis jam 7:59
ULANGAN 20:10-13
10. Apabila engkau mendekati sebuah kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan damai kepadanya.
11. Apabila kota itu menerima perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang ada disitu melakukan RODI bagi mu dan menjadi hamba kepadamu.
12. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan perlawanan dengan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya.
13 dan setelah Tuhan, Allahmu menyerahkannya kedalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:00
Samuel 15:3 “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan padanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun PEREMPUAN, KANAK-KANAK MAUPUN ANAK-ANAK YANG MENYUSU, LEMBU maupun DOMBA, UNTA maupun KELEDAI” hapus
Bapak Korban Salibis jam 8.00
Ulangan 20:16 “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, JANGANLAH KAU BIARKAN HIDUP APAPUN YANG BERNAFAS”. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:01
17 Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.
18 Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu. hapus
Bapak Korban Salibis jam 8:05
Jika kamu masih berdalih: “Kan udah ada Yesus, jadi ajaran perang berubah…”
Oh… Gak bisa gitu bos…
Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah. [Mazmur 89:34] hapus
Bishop Baius Hannasius jam 8:12
Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum taurat, sebelum semuanya terjadi.” hapus
Minggu, 20 Juni 2010
Transkrip Dialog, Penghakiman 'Isa Almasih
Berawal di sebuah note milik Cahaya Iman di Facebook
Catatan Cahaya Iman: IMAM MAHDI DI ALQURAN ADALAH ISA (YESUS)…
Catatan Cahaya|Catatan tentang Cahaya|Profil Cahaya
IMAM MAHDI DI ALQURAN ADALAH ISA (YESUS)…
Bagikan
11 Juni 2010 jam 4:12
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.
Dan adalah Allah Maha Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS. an-Nisa’ (4) : 158
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman
kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu
akan menjadi saksi terhadap mereka.
QS. an-Nisa’ (4) : 159
Diperbarui sekitar seminggu yang lalu · Komentari · Suka · Laporkan Catatan
Inggrids Sahdu
emmm . . . !
11 Juni jam 7:51 melalui Facebook Seluler · Suka
Bishop Baius Hannasius
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassallam bersabda, “Ibnu Maryam akan turun sebagai seorang imam dan penguasa yang adil.
11 Juni jam 16:16 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membawa kembali perdamaian, dan menggunakan pedang sebagai sabit (alat pertanian yang bergagang pendek).
11 Juni jam 16:17 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Segala sesuatu yang beracun akan kehilangan racunnya, dan dari langit makanannya akan jatuh. Dan, bumi akan mengeluarkan anugerahnya. Seorang anak akan bermain dengan seekor ular, dan ular itu tidak akan mematuknya.
11 Juni jam 16:20 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Biri-biri dan serigala akan bergembala bersama tanpa yang terakhir (serigala) memakan yang pertama (biri-biri); singa dan sapi akan bergembala bersama tanpa yang terakhir (singa) memakan yang pertama (sapi).” [HR. Ahmad]
11 Juni jam 16:22 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassallam bersabda, “Dengan Dia yang mempunyai jiwaku di tangan-Nya, waktu adalah dekat ketika Ibnu Maryam akan turun di antara kalian–seorang penguasa adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghilangkan Jizyah.
11 Juni jam 16:26 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Kekayaan akan berada dalam kelimpahan yang tidak seorang pun akan menerimanya (sebagai amal). Sijdah (sujud) akan menjadi lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.”
11 Juni jam 16:28 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Kemudian Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata, “Dan sampaikan jika kalian berkehendak:
Tidak ada seorang pun dari ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa, hanya sebagai seorang Rasulullah dan sebagai manusia biasa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” [QS. An-Nisaa' 4:159]
11 Juni jam 16:32 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Cahaya Iman
iya…berarti kan bukan muhamad..?
14 Juni jam 8:28 · Suka
Bishop Baius Hannasius
Memangnya kenapa?
14 Juni jam 10:12 · Suka ·
Cahaya Iman
Isa menjadi saksi…bukan muhamad kan..sementara muhamad ikut di adili… sama YESUS…sedih ga bro..kamu nya..?
ha ha ha ha ha….
Kemarin jam 6:34 · Suka
Bishop Baius Hannasius
Gak sedih kok……. Nabi Yesus kan mengadili ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), lihat QS. An-Nisaa 4:159
Kemarin jam 12:00 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Ibnu Abi Hatim menyampaikan bahwa seseorang bertanya pada al-Hasan tentang ayat ini:
Tidak ada seorang pun dari ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kecuali akan beriman kepadanya (Isa, hanya sebagai seorang Rasul Allah dan sebagai manusia biasa) sebelum kematiannya. [QS. An-nisaa' 4:159]
Dalam ayat tersebut ‘Isa akan mengadili Yahudi yg … Lihat Selengkapnyamenganggapnya sebagai anak haram dan orang Nasrani yg menganggapnya sbg Tuhan, bahwasanya Yesus, atau Isa karena kamu menganggapnya begitu adalah seorang Rasul dan manusia biasa…
48 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
..sementara muhammad ikut di adili….
@==§==========-
Itukan katamu, kata saya Tidak. Nabi Muhammad tdk diadili…. Lihat Selengkapnya
Saya punya 2 dalil:
1. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, DAN KAMU TIDAK AKAN DIMINTA (PERTANGGUNG JAWAB) tentang penghuni-penghuni neraka. [QS. Al Baqarah 2:119]
44 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Yang ke-2 adalah dari dalil hadist yg disampaikan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yaitu tentang turunnya ‘Isa dan membunuh Dajjal, di akhir Hadist bunyinya seperti ini: ……….’Isa akan tetap tinggal selama 40 tahun. Kemudian dia akan meninggal, dan umat Islam akan menshalatinya. HR. Ahmad
Bagaimana Yesus akan mengadili Nabi Muhammad, sedangkan Yesus hanya diberi waktu oleh Allah selama 40 tahun di bumi, sedangkan Nabi Muhammad tidak hidup di bumi saat itu?
39 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Catatan Cahaya Iman: IMAM MAHDI DI ALQURAN ADALAH ISA (YESUS)…
Catatan Cahaya|Catatan tentang Cahaya|Profil Cahaya
IMAM MAHDI DI ALQURAN ADALAH ISA (YESUS)…
Bagikan
11 Juni 2010 jam 4:12
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.
Dan adalah Allah Maha Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS. an-Nisa’ (4) : 158
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman
kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu
akan menjadi saksi terhadap mereka.
QS. an-Nisa’ (4) : 159
Diperbarui sekitar seminggu yang lalu · Komentari · Suka · Laporkan Catatan
Inggrids Sahdu
emmm . . . !
11 Juni jam 7:51 melalui Facebook Seluler · Suka
Bishop Baius Hannasius
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassallam bersabda, “Ibnu Maryam akan turun sebagai seorang imam dan penguasa yang adil.
11 Juni jam 16:16 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membawa kembali perdamaian, dan menggunakan pedang sebagai sabit (alat pertanian yang bergagang pendek).
11 Juni jam 16:17 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Segala sesuatu yang beracun akan kehilangan racunnya, dan dari langit makanannya akan jatuh. Dan, bumi akan mengeluarkan anugerahnya. Seorang anak akan bermain dengan seekor ular, dan ular itu tidak akan mematuknya.
11 Juni jam 16:20 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Biri-biri dan serigala akan bergembala bersama tanpa yang terakhir (serigala) memakan yang pertama (biri-biri); singa dan sapi akan bergembala bersama tanpa yang terakhir (singa) memakan yang pertama (sapi).” [HR. Ahmad]
11 Juni jam 16:22 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassallam bersabda, “Dengan Dia yang mempunyai jiwaku di tangan-Nya, waktu adalah dekat ketika Ibnu Maryam akan turun di antara kalian–seorang penguasa adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghilangkan Jizyah.
11 Juni jam 16:26 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Kekayaan akan berada dalam kelimpahan yang tidak seorang pun akan menerimanya (sebagai amal). Sijdah (sujud) akan menjadi lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.”
11 Juni jam 16:28 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Kemudian Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata, “Dan sampaikan jika kalian berkehendak:
Tidak ada seorang pun dari ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa, hanya sebagai seorang Rasulullah dan sebagai manusia biasa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” [QS. An-Nisaa' 4:159]
11 Juni jam 16:32 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Cahaya Iman
iya…berarti kan bukan muhamad..?
14 Juni jam 8:28 · Suka
Bishop Baius Hannasius
Memangnya kenapa?
14 Juni jam 10:12 · Suka ·
Cahaya Iman
Isa menjadi saksi…bukan muhamad kan..sementara muhamad ikut di adili… sama YESUS…sedih ga bro..kamu nya..?
ha ha ha ha ha….
Kemarin jam 6:34 · Suka
Bishop Baius Hannasius
Gak sedih kok……. Nabi Yesus kan mengadili ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), lihat QS. An-Nisaa 4:159
Kemarin jam 12:00 melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Ibnu Abi Hatim menyampaikan bahwa seseorang bertanya pada al-Hasan tentang ayat ini:
Tidak ada seorang pun dari ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kecuali akan beriman kepadanya (Isa, hanya sebagai seorang Rasul Allah dan sebagai manusia biasa) sebelum kematiannya. [QS. An-nisaa' 4:159]
Dalam ayat tersebut ‘Isa akan mengadili Yahudi yg … Lihat Selengkapnyamenganggapnya sebagai anak haram dan orang Nasrani yg menganggapnya sbg Tuhan, bahwasanya Yesus, atau Isa karena kamu menganggapnya begitu adalah seorang Rasul dan manusia biasa…
48 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
..sementara muhammad ikut di adili….
@==§==========-
Itukan katamu, kata saya Tidak. Nabi Muhammad tdk diadili…. Lihat Selengkapnya
Saya punya 2 dalil:
1. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, DAN KAMU TIDAK AKAN DIMINTA (PERTANGGUNG JAWAB) tentang penghuni-penghuni neraka. [QS. Al Baqarah 2:119]
44 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Bishop Baius Hannasius
Yang ke-2 adalah dari dalil hadist yg disampaikan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yaitu tentang turunnya ‘Isa dan membunuh Dajjal, di akhir Hadist bunyinya seperti ini: ……….’Isa akan tetap tinggal selama 40 tahun. Kemudian dia akan meninggal, dan umat Islam akan menshalatinya. HR. Ahmad
Bagaimana Yesus akan mengadili Nabi Muhammad, sedangkan Yesus hanya diberi waktu oleh Allah selama 40 tahun di bumi, sedangkan Nabi Muhammad tidak hidup di bumi saat itu?
39 menit yang lalu melalui Facebook Seluler · Suka ·
Jumat, 18 Juni 2010
Transkrip Dialog, Membantah Islam Mengajarkan Kekerasan
Berawal dari status Dada Chandra Ramadhan di Facebook pada Hari Jum’at, 18 Juni 2010
Dada Chandra Ramadhan
TAK BOLEH BERLAKU BAIK PADA ORANG KAFIR!
9 jam yang lalu
10 Komentar – Suka
2 orang menyukai ini.
Dada Chandra Ramadhan jam 5:06
TAK BOLEH BERLAKU BAIK PADA ORANG KAFIR!
RASULULLAH SAW TELAH BESABDA: “BERLAKU BAIKLAH TERHADAP ORANG MUSLIM DAN BERLAKU TEGASLAH TERHADAP ORANG NON MUSLIM (KAFIR)!” (H.R. BUKHORI).
MAKA KITA JANGANLAH BERLAKU KASAR N JAHAT N BAIK HATI TERHADAP ORANG NON MUSLIM, TETAPI HARUSLAH BERLAKU TEGAS!
Lia Rani jam 5:33
Hehe akhrny ad jg muslim yg mengakui hal tsb, dr dulu sy paparkn hadits tsb,tp tak ad yg pcya dan dkatakn hadits tsb dha’if.hehe..
Kl bgni kan sy jd yakin akn islam. Hanya mengasihi yg mw ikut (tak ada bedany dgn genk2 jahat d dunia).hehe..
Islam terbukti bukan agama damai.hehehe..
Dada Chandra Ramadhan jam 5:34
lia, lo islam ato kafir?...
Lia Rani jam 5:48
Untk mengtahui suatu ajaran/ayat,tdk plu memikirkan latar blakang org tsb.hehehe..
Yg plu dperhatikan adl mengapa yg katany ajaran agama,justru memerntahkn brlaku keras thd yg tak seagama.hehe..
Islam agama atau genk?
hehe..
Bishop Baius Hannasius jam 5:51
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amri dari Nabi shollallahu ‘alayhi wassallam, “Barangsiapa membunuh Kafir Mua’hid, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. hapus
Bishop Baius Hannasius jam 5:53
Islam dilarang membunuh sesama manusia tanpa alasan yang dibenarkan… hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:09
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. At Taubah: 6 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:13
Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. At Taubah:7 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:21
Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Baqarah: 192 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 11:15
Saya melihat dalam Kamus Umum Baku Bahasa Indonesia oleh Idrus H. A. Terbitan Bintang Usaha Jaya Surabaya Cetakan pertama Tahun 1996, bahwa kata Tegas berarti berwibawa, tidak plin plan. Menegaskan artinya menjelaskan, menerangkan. Tegasnya artinya jelasnya, maksudnya. Sehingga kata tegas tak ada hubungannya dengan tidak boleh berbuat baik… hapus
Dada Chandra Ramadhan
TAK BOLEH BERLAKU BAIK PADA ORANG KAFIR!
9 jam yang lalu
10 Komentar – Suka
2 orang menyukai ini.
Dada Chandra Ramadhan jam 5:06
TAK BOLEH BERLAKU BAIK PADA ORANG KAFIR!
RASULULLAH SAW TELAH BESABDA: “BERLAKU BAIKLAH TERHADAP ORANG MUSLIM DAN BERLAKU TEGASLAH TERHADAP ORANG NON MUSLIM (KAFIR)!” (H.R. BUKHORI).
MAKA KITA JANGANLAH BERLAKU KASAR N JAHAT N BAIK HATI TERHADAP ORANG NON MUSLIM, TETAPI HARUSLAH BERLAKU TEGAS!
Lia Rani jam 5:33
Hehe akhrny ad jg muslim yg mengakui hal tsb, dr dulu sy paparkn hadits tsb,tp tak ad yg pcya dan dkatakn hadits tsb dha’if.hehe..
Kl bgni kan sy jd yakin akn islam. Hanya mengasihi yg mw ikut (tak ada bedany dgn genk2 jahat d dunia).hehe..
Islam terbukti bukan agama damai.hehehe..
Dada Chandra Ramadhan jam 5:34
lia, lo islam ato kafir?...
Lia Rani jam 5:48
Untk mengtahui suatu ajaran/ayat,tdk plu memikirkan latar blakang org tsb.hehehe..
Yg plu dperhatikan adl mengapa yg katany ajaran agama,justru memerntahkn brlaku keras thd yg tak seagama.hehe..
Islam agama atau genk?
hehe..
Bishop Baius Hannasius jam 5:51
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amri dari Nabi shollallahu ‘alayhi wassallam, “Barangsiapa membunuh Kafir Mua’hid, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. hapus
Bishop Baius Hannasius jam 5:53
Islam dilarang membunuh sesama manusia tanpa alasan yang dibenarkan… hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:09
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. At Taubah: 6 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:13
Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. At Taubah:7 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 6:21
Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Baqarah: 192 hapus
Bishop Baius Hannasius jam 11:15
Saya melihat dalam Kamus Umum Baku Bahasa Indonesia oleh Idrus H. A. Terbitan Bintang Usaha Jaya Surabaya Cetakan pertama Tahun 1996, bahwa kata Tegas berarti berwibawa, tidak plin plan. Menegaskan artinya menjelaskan, menerangkan. Tegasnya artinya jelasnya, maksudnya. Sehingga kata tegas tak ada hubungannya dengan tidak boleh berbuat baik… hapus
Rabu, 16 Juni 2010
Menjawab nasib wanita muslimah: Islam memperbolehkan memukul istri . . .
(Sering) ada pertanyaan dari kaum non muslim tentang salah satu "nasib wanita muslimah". Topik kita kali ini adalah pertanyaan: "Kenapa istri muslimah boleh dipukul suami muslim, sedangkan istri kafir tidak boleh dipukul karena dilindungi hukum KDRT?"
Dari sini muncul pertanyaan: kapan, mengapa dan siapa pukulan boleh dilakukan?
untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji.
Dasar yang mereka gunakan adalah Surat An-Nisaa: 34
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Apa ada yang salah dengan ayat di atas? TIDAK . . .
Sederhananya begini: dari ayat di atas jelas, memukul sebagai alternative terakhir. Menurut ayat di atas, apabila sang istri nusyuz (durhaka), maka yang pertama harus dilakukan adalah menasehati. Namun jika dinasehati tidak mempan dan masih saja durhaka, maka pisahlah dari tempat tidur mereka (pisah ranjang) agar sang istri merasa bersalah atas tingkah durhakanya. Jika kedua cara yang baik ini masih juga tidak mempan dan sang istrri masih saja durhaka, maka pukullah.
Mengenai “pukullah” ini, pukulan yang dimaksud adalah pukulan ringan yang tidak mengucurkan darah serta tidak dikhawatirkan menimbulkan kebinasaan jiwa atau cacat pada tubuh, patah tulang, dsb (dharb ghoiru mubbarih). Tujuannya adalah untuk mendidik, memperbaiki, dan meluruskan. Dan bukan pukulan yang keras hingga membuat istri takut dan lari dari suami.
Sabda Rosul Saw:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut3 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. Muslim no. 2941)
Contoh kisah nabi Ayub a.s:
Ketika nabi Ayub ditinggalkan oleh istrinya, beliau bernazar jika kelak ia sembuh, ia akan memukul istrinya 100 kali. Dan beliau melakukannya. Tapi dengan seikat lidi berjumlah seratus buah, dan memukul hanya sekali saja. (QS. Shâd [38]: 44)
(sumber: http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=89)
Intinya, pukulan hanya ditujukan pada istri yang sangat durhaka sekali, yang tidak mengindahkan nasehat dan tindakan peringatan suami dalam bentuk pisah ranjang.
Yang patut jadi perhatian!
Islam menetapkan batasan-batasan dan syarat-syarat dalam pelaksanaan pukulan sehingga tidak keluar dari tujuan pembolehannya yaitu untuk memperbaiki, meluruskan, dan mendidik. Bukan untuk membalas dendam, menghinkan dan merendahkan. Pukulannya pun harus pukulan yang tidak keras. Tidak boleh melampaui batas.
Dari sini muncul pertanyaan: kapan, mengapa dan siapa pukulan boleh dilakukan?
untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji.
Dasar yang mereka gunakan adalah Surat An-Nisaa: 34
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Apa ada yang salah dengan ayat di atas? TIDAK . . .
Sederhananya begini: dari ayat di atas jelas, memukul sebagai alternative terakhir. Menurut ayat di atas, apabila sang istri nusyuz (durhaka), maka yang pertama harus dilakukan adalah menasehati. Namun jika dinasehati tidak mempan dan masih saja durhaka, maka pisahlah dari tempat tidur mereka (pisah ranjang) agar sang istri merasa bersalah atas tingkah durhakanya. Jika kedua cara yang baik ini masih juga tidak mempan dan sang istrri masih saja durhaka, maka pukullah.
Mengenai “pukullah” ini, pukulan yang dimaksud adalah pukulan ringan yang tidak mengucurkan darah serta tidak dikhawatirkan menimbulkan kebinasaan jiwa atau cacat pada tubuh, patah tulang, dsb (dharb ghoiru mubbarih). Tujuannya adalah untuk mendidik, memperbaiki, dan meluruskan. Dan bukan pukulan yang keras hingga membuat istri takut dan lari dari suami.
Sabda Rosul Saw:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut3 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. Muslim no. 2941)
Contoh kisah nabi Ayub a.s:
Ketika nabi Ayub ditinggalkan oleh istrinya, beliau bernazar jika kelak ia sembuh, ia akan memukul istrinya 100 kali. Dan beliau melakukannya. Tapi dengan seikat lidi berjumlah seratus buah, dan memukul hanya sekali saja. (QS. Shâd [38]: 44)
(sumber: http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=89)
Intinya, pukulan hanya ditujukan pada istri yang sangat durhaka sekali, yang tidak mengindahkan nasehat dan tindakan peringatan suami dalam bentuk pisah ranjang.
Yang patut jadi perhatian!
Islam menetapkan batasan-batasan dan syarat-syarat dalam pelaksanaan pukulan sehingga tidak keluar dari tujuan pembolehannya yaitu untuk memperbaiki, meluruskan, dan mendidik. Bukan untuk membalas dendam, menghinkan dan merendahkan. Pukulannya pun harus pukulan yang tidak keras. Tidak boleh melampaui batas.
Selasa, 15 Juni 2010
Jawaban Atas Pertanyaan QS. 3:55
Dalam setiap debat antara muslim dengan kristen, selalu saja ada pertanyaan dari seorang kristen tentang maksud dari QS 3: 55,silahkan anda semua perhatikan ini:
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ
الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya". (Qs 3:55)
Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat diatas.
Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat "Tawaffa" (mewafatkanmu)
Makna dari "Tawaffa" adalah "Imatah" (mematikan), dan kematian itu telah terjadi sebelum 'Isa diangkat.
Kata "Tawaffa" tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah Sub'hanahu wata'ala mewafatkannya kapan saja. Yang jelas tidak ada dalil bahwa waktunya telah berlalu. Mengenai bersambungnya kata "Mutawafika" dengan kata "Warofi'uka" tetap tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Para ahli bahasa berpendapat bahwa kata sambung /wau/ itu tidak memberi faedah urutan waktu dan tidak pula Jama' (mengumpulkan) akan tetapi memberi faedah Tasyrik (keikutsertaan).
Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah yang menyatakan penciptaan langit dan bumi, terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam Surah Al Baqarah 29 dan surah Thaha 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat2 dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (Surah Al A'raaf 54, Surah Yunus 3, Surah Hud 7, Surah Al Furqaan 59, Surah As-sajadah 4, Surah Qaf 38, Surah Al Hadied 4, Surah An-Naazi'aat 27 dan Surah As Syams 5 s/d 10). Jika kita tinggalkan surah An-Naazi'aat, tak ada suatu paragrafpun dalam Al Quran yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.
Ditinjau secara langsung ke dalam bahasa arab yang terdapat hanya huruf "Wa" yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata "tsumma" yang berarti "disamping itu" atau "kemudian dari pada itu". Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yaitu urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi kata tersebut dapat juga berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti urutan-urutan.
Bagaimanapun periode penciptaan langit-langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi.Di dalam Al Quran, hanya terdapat satu paragraf yang menyebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu Surah An-Naazi'aat: 27-33.
Izqolallahu ya'Isa Inni mutawaffika warofi'uka, Artinya adalah:
"Ketika Allah berkata: "Wahai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu, bisa juga bermakna demikian :
"Izqolallahu ya'Isa Inni rofi'uka illa wamutawaffika" , yang artinya menjadi
Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu."
Hal ini juga berdasarkan dalil bahwa didalam AlQur'an juga terdapat pemutlakan kata wafat untuk makna tidur, seperti dalam firman Allah :
"Wahualladzi yatawaffakum billayli waya'lamuma jarohtum binnahari."
Dan Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.(Qs. 6:60)
Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; lalu ditahanNya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepaskanNya yang lain sampai satu masa yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(Qs. 39:42)
Rasulullah ketika bangun tidur mengucapkan:
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia Mematikan kami (artinya, membangunkan kami setelah menidurkan kami) dan hanya kepada Dia saja tempat kembali.(Hr. Bukhari)
Didalam kitab dan sunnah dibenarkan memutlakkan kata wafat untuk tidur. Jika demikian bisa jadi diangkatnya Nabi Isa putra Maryam itu dalam keadaan tidur sebagaimana dikatakan oleh Al Hasan Basri.
Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :
Rofi'uka wamutawaffika
Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu
Dia mengangkatmu (kelangit) lalu menurunkanmu (kedunia) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.
Selanjutnya penafsiran lain, kata "Mutawwafa" adalah isim fail (nomina verbal) dari kata kerja "Tawaffahu", sehingga dapat diartikan "Jika ia menggenggamnya dan menghimpunnya kepadanya". Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur'an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat
Sehingga penafsiran ayat itu menjadi :
Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ
الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya". (Qs 3:55)
Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat diatas.
Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat "Tawaffa" (mewafatkanmu)
Makna dari "Tawaffa" adalah "Imatah" (mematikan), dan kematian itu telah terjadi sebelum 'Isa diangkat.
Kata "Tawaffa" tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah Sub'hanahu wata'ala mewafatkannya kapan saja. Yang jelas tidak ada dalil bahwa waktunya telah berlalu. Mengenai bersambungnya kata "Mutawafika" dengan kata "Warofi'uka" tetap tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Para ahli bahasa berpendapat bahwa kata sambung /wau/ itu tidak memberi faedah urutan waktu dan tidak pula Jama' (mengumpulkan) akan tetapi memberi faedah Tasyrik (keikutsertaan).
Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah yang menyatakan penciptaan langit dan bumi, terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam Surah Al Baqarah 29 dan surah Thaha 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat2 dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (Surah Al A'raaf 54, Surah Yunus 3, Surah Hud 7, Surah Al Furqaan 59, Surah As-sajadah 4, Surah Qaf 38, Surah Al Hadied 4, Surah An-Naazi'aat 27 dan Surah As Syams 5 s/d 10). Jika kita tinggalkan surah An-Naazi'aat, tak ada suatu paragrafpun dalam Al Quran yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.
Ditinjau secara langsung ke dalam bahasa arab yang terdapat hanya huruf "Wa" yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata "tsumma" yang berarti "disamping itu" atau "kemudian dari pada itu". Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yaitu urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi kata tersebut dapat juga berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti urutan-urutan.
Bagaimanapun periode penciptaan langit-langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi.Di dalam Al Quran, hanya terdapat satu paragraf yang menyebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu Surah An-Naazi'aat: 27-33.
Izqolallahu ya'Isa Inni mutawaffika warofi'uka, Artinya adalah:
"Ketika Allah berkata: "Wahai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu, bisa juga bermakna demikian :
"Izqolallahu ya'Isa Inni rofi'uka illa wamutawaffika" , yang artinya menjadi
Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu."
Hal ini juga berdasarkan dalil bahwa didalam AlQur'an juga terdapat pemutlakan kata wafat untuk makna tidur, seperti dalam firman Allah :
"Wahualladzi yatawaffakum billayli waya'lamuma jarohtum binnahari."
Dan Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.(Qs. 6:60)
Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; lalu ditahanNya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepaskanNya yang lain sampai satu masa yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(Qs. 39:42)
Rasulullah ketika bangun tidur mengucapkan:
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia Mematikan kami (artinya, membangunkan kami setelah menidurkan kami) dan hanya kepada Dia saja tempat kembali.(Hr. Bukhari)
Didalam kitab dan sunnah dibenarkan memutlakkan kata wafat untuk tidur. Jika demikian bisa jadi diangkatnya Nabi Isa putra Maryam itu dalam keadaan tidur sebagaimana dikatakan oleh Al Hasan Basri.
Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :
Rofi'uka wamutawaffika
Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu
Dia mengangkatmu (kelangit) lalu menurunkanmu (kedunia) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.
Selanjutnya penafsiran lain, kata "Mutawwafa" adalah isim fail (nomina verbal) dari kata kerja "Tawaffahu", sehingga dapat diartikan "Jika ia menggenggamnya dan menghimpunnya kepadanya". Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur'an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat
Sehingga penafsiran ayat itu menjadi :
Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.
Langganan:
Postingan (Atom)